Kamis, 23 Desember 2010

Bentuk Bumi saat 600 juta tahun lalu

1keWpqLFPK Ilmuwan : "600 Juta Tahun Lalu Bentuk Bumi Sebesar Benih"
Bentuk semesta 600 juta tahun setelah Big Bang ibarat sebuah ‘benih’.

WASHINGTON – Teleskop luar angkasa Hubble menangkap sebuah citra yang menampakkan tampilan semesta saat pertamakali terbentuk. Para ahli memperkirakan citra tersebut merupakan gambaran semesta sekira 600 juta tahun setelah peristiwa ledakan besar yang dikenal dalam ilmu sains dengan istilah Big Bang. Kala itu, alam semesta boleh dibilang masih kanak-kanak.

Teori Big Bang
 Hasil pencitraan tersebut dirilis awal pekan ini pada pertemuan penting bidang astronomi American Astronomical Society. Para ilmuwan menilai, sejauh ini citra tersebut merupakan citra terlengkap yang menggambarkan semesta saat baru terbentuk.

Pada citra tersebut terlihat sebuah galaksi yang dipenuhi bintang berusia jutaan tahun, yang kemudian menjadi kelompok bintang pertama. Galaksi yang masih sangat muda ini belum memiliki bentuk khusus seperti spiral atau lonjong. Ukurannya pun masih lebih kecil dari ukuran sekarang dan warnanya biru.

“Hal itu dikarenakan pada tahap awal galaksi belum terlalu banyak mengandung bahan logam berat,” kata astronom dari University of California Garth Illingworth, seperti dikutip dari English People, Rabu (6/1/2010).
“Kami melihat galaksi yang sangat kecil. Mirip sebuah ‘benih’ yang kemudian berkembang menjadi galaksi besar di masa sekarang,” tambah Illingworth. Sampai pada tahun lalu ketika Teleskop Hubble milik NASA diperbaiki dan diperbaharui, masa terlampau alam semesta yang bisa dilihat para astronom adalah sekira 900 juta tahun setelah Big Bang.

Hubble dinilai sangat membantu dalam menentukan usia alam semesta sekira 13,7 miliar tahun. Penentuan ini pada akhirnya menuntaskan perdebatan ilmiah beberapa dekade lampau tentang usia alam semesta.

Jakarta Akan Tenggelam 2030. Benarkah ?

Jakarta tenggelam 2030
DKI Jakarta diperkirakan akan terendam air permanen pada tahun 2030 akibat beberapa faktor. Banjir pasang air laut (rob) akibat penurunan permukaan tanah serta banjir akibat hujan yang terus meluas di seluruh wilayah Ibu Kota menjadi faktor DKI Jakarta akan tenggelam.



“Tahun 2030 Jakarta terancam tenggelam permanen. Perluasan genangan air dan banjir rob menjadi faktor,” kata Direktur Eksekutif Walhi Jakarta, Ubaidillah, saat jumpa pers di Kantor Walhi Jakarta, Rabu (18/11).
Spoiler for Baca Selengkapnya:

Ubaidillah menjelaskan, banjir rob di Jakarta diperkirakan akan terus melebar. Saat ini wilayah Jakarta yang terkena banjir rob, yaitu Marunda, Cilincing, Ancol, Pademangan, Muara Baru, Muara Angke, dan wilayah lain.
Bundaran HI yang tenggelam

Beberapa wilayah di Jakarta, ucap dia, telah melanggar tata ruang dengan mengalihkan fungsi lahan terbuka menjadi bangunan sehingga memperluas daerah banjir. Sebagai contoh, bangunan Mega Mall Pluit, Kantor Wali Kota Jakarta Selatan, kawasan Pantai Indah Kapuk, kawasan Kemang, Kelapa Gading, Senayan, Hotel Mulia, Plaza Senayan, Sudirman Place, Mall Taman Anggrek, Podomoro City, dan wilayah lain.
“Bayangkan saja di Jakarta terdapat 364 pusat perbelanjaan dan 57 mal. Banyak pusat perbelanjaan dan mal yang melanggar tata ruang. Banjir juga akibat 80 persen dari 6.000 ton sampah per hari yang masuk ke saluran air dan mengakibatkan saluran tersumbat,” tegas dia.

Pada tahun 2008, tambah Ubaidillah, sebanyak 514 RW di 151 kelurahan terendam banjir dengan korban yang dirawat sedikitnya 542 orang dan pengungsi 2.451 jiwa. Diperkirakan, pada awal tahun 2010 akan terjadi penambahan antara 5-10 persen wilayah yang terkena banjir.

“Masih ada waktu sekitar dua bulan untuk pemerintah membuat tanggap bencana. Pemerintah harus bergerak cepat mengatasi banjir,” jelas di

forumkami.com

Badai Matahari sekiranya terjadi antara 2012 - 2015

 
Film fiksi ilmiah ’2012′ yang menceritakan tentang terjadinya badai matahari (flare) bukan isapan jempol belaka. Flare diperkirakan akan terjadi antara tahun 2012-2015. Namun, tak serta merta hal itu melenyapkan peradaban dunia.

“Lapan memperkirakan puncak aktivitas matahari akan terjadi antara 2012 hingga 2015. Pada puncak siklusnya, aktivitas matahari akan tinggi dan terjadi badai matahari,” ujar Kabag Humas Lapan Elly Kuntjahyowati dalam rilis yang diterima detikcom, Kamis (4/3/2010).



Flare tersebut, imbuhnya, merupakan salah satu aktivitas matahari selain medan magnet, bintik matahari, lontaran massa korona, angin surya dan partikel energetik. Ledakan-ledakan matahari itu, bisa sampai ke bumi. Namun, flare yang diperkirakan akan terjadi itu tak akan langsung membuat dunia hancur.
“Masyarakat banyak yang menghubungkan antara badai matahari dengan isu kiamat 2012 dari ramalan Suku Maya. Ternyata dari hasil pengamatan Lapan, badai matahari tidak akan langsung menghancurkan peradaban dunia,” imbuhnya.

Efek badai tersebut, lanjut dia, yang paling utama berdampak pada teknologi tinggi seperti satelit dan komunikasi radio. Satelit dapat kehilangan kendali dan komunikasi radio akan terputus.
“Efek lainnya, aktivitas matahari berkontribusi pada perubahan iklim. Ketika aktivitas matahari meningkat maka matahari akan memanas. Akibatnya suhu bumi meningkat dan iklim akan berubah,” jelas Elly.
Partikel-partikel matahari yang menembus lapisan atmosfer bumi akan mempengaruhi cuaca dan iklim. Dampak ekstremnya, bisa menyebabkan kemarau panjang. Namun hal ini masih dikaji oleh para peneliti.


Lapan pun berniat mensosialisasikan dampak aktivitas matahari ini ke masyarakat. Sosialisasi Fenomena Cuaca Antariksa 2012-2015 pun akan digelar di Gedung Pasca Sarjana lantai 3, Universitas Udayana, Jl Jenderal Sudirman, Denpasar, Bali pada 9 Maret 2010 pukul 11.00 Wita.

Detik.com